MAJALENGKA – Pasca Lebaran, Bupati Majalengka, H Sutrisno SE MSi banyak undangan halalbihalal. Kemarin (8/9) saja ada tiga acara halalbihalal yang dihadiri bupati, yakni Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK), Kantor Kementerian Agama (Kemenag), dan di Pemcam Cikijing.

Untuk halalbihalal bersama pegawai Kemenag Kabupaten Majalengka acara digelar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jl KH Abdul Halim. Selain berkapasitas lebih besar, tempat tersebut strategis karena berada di jalur utama Majalengka. Usai menghadiri halalbihalal di DBMCK yang letaknya tak jauh dari SKB, bupati langsung merapat ke acara Kemenag. Hadir pada acara itu Kepala Kemenag Kabupaten Majalengka Drs H Mohammad Athoillah MAg, perwakilan Kemenag Provinsi Jawa Barat, unsure Muspida, sejumlah ulama, tokoh masyarakat, perwakilan DPRD, pejabat di lingkungan Pemkab Majalengka, para kepala KUA, dan pegawai di lingkungan Kemenag.

Kepala Kemenag Drs H Mohammad Athoillah MAg mengatakan, momentum halalbihalal adalah fondasi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Selain mengedepankan kebersamaan dan silaturahmi, halalbihalal dengan Pemkab Majalengka adalah sebuah penguatan karakter bekerja sama membangun daerah. “Proses penguatan khususnya di bidang pendidikan, misalnya di tingkat RA/MI/MTs/MA. Momen ini juga sebagai evaluasi kami dalam menjalankan program kerja. Kedatangan Pak Bupati adalah kehormatan besar. Ini menjadi penyemangat kami menjalankan program kerja,” tuturnya. Sementara itu, Bupati Majalengka, H Sutrisno SE MSi dalam sambutan sekaligus tausiyah memaparkan, momentum Hari Raya Idulfitri seyogyanya dapat memberikan warna tersendiri dalam menatap kehidupan yang lebih baik. Khususnya dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya.

Sehingga sebagai umat Islam dapat selamat dunia dan akhirat. “Semangat Lebaran ini sebenarnya bukan sekadar ganti baju atau menikmati beragam makanan dan minuman. Tapi lebih dari itu, diharapkan dapat memetik pelajaran selama berpuasa satu bulan penuh. Artinya, prilaku positif harus tetap dipertahankan sedangkan kebiasaan buruk harus dibuang jauh-jauh,” parapnya.

Dikatakan, mumpung masih dalam suasana fitri, di mana sudah dilatih dan dibina selama satu bulan penuh, untuk mengurangi aktivitas yang menjurus pada perbuatan maksiat, maka saat ini juga harus bisa menjaga lisan, hati, dan pikiran agar selalu jernih. Sebab walau bagaimanapun hal ini demi kebaikan umat. “Kita harus banyak belajar dari semut. Meski sesibuk apa pun aktivitasnya, mereka tidak pernah lupa untuk saling menyapa. Begitu juga manusia,” tuturnya. (mid)